FasePerjuangan HMI A. Fase Perjuangan Fisik (1948). Pada fase ini HMI terlibat dalam perjuangan secara fisik, yaitu menghadapi negara luar yang ingin merebut indonesia , yang telah di proklamirkan pada 17 Agustus 1945
Fasefase perjuangan dan relevansinya dengan sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Fase Konsolidasi Spiritual dan Proses Berdirinya HMI (November 1946 - 5 Februari 1947) Di fase ini pula HMI berhadapan dengan kekuatan yang ingin HMI ini enyah. Fase kebangkitan (1966 - 1968) Fase partisipasi HMI dalam pembangunan (1969 - 1970)
FaseTantangan 1964 - 1965 Fase tantangan merupakan fase yang menggugat eksistensi HMI di Indonesia. Pada fase ini HMI secara nasional mendapat tekanan yang sangat kuat untuk dibubarkan yang berasal dari Partai. . Fase Tantangan 1964 - 1965 Fase tantangan merupakan fase yang menggugat eksistensi HMI di Indonesia.
Dalamperjalanan HMI selama setengah abad lebih, ditengah usia yang sudah senja, HMI telah menjalani beberapa fase, paling tidak, ada 11 fase yang dilalui HMI, yaitu : 1. Fase Konsolidasi Spiritual dan Proses Berdirinya HMI (tahun 1946) Bermula dari latar belakang munculnya pemikiran dan berdirinya HMI serta kondisi obyektif yang mendorongnya,
Dalamperjalanannya hingga sekarang, HMI mengalami dinamika perjuangan seperti yang diungkapkan oleh Agus Salim Sitompul dalam bukunya Sejarah Perjuangan HMI (1947-1975) dan diperbaharui dalam buku Historiografi HMI (1947-1995), menurutnya ada lima fase perjuangan HMI, yaitu: 1) Fase Perjuangan Fisik (1947-1949) 2) Fase Pertumbuhan dan
FaseFase Perkembangan HMI dalam Perjuangan Bangsa Indonesia: Fase Konsolidasi Spiritual dan Proses Berdirinya HMI (November 1946-5 Februari 1947) Fase Berdiri dan Pengokohan (5 Februari-30 November 1947) Fase Pertumbuhan dan Perkembangan HMI (1950- 1963) Fase Tantangan I (1964-1965) Fase Kebangkitan HMI sebagai Pelopor Orde Baru (1966-1968) Fase Pembangunan (1969-1970) Fase Pergolakan dan Pembaharuan Pemikiran (1970- 1994) Fase Reformasi (1995-1999) Fase Tantangan II (2000-sekarang)
F Fase kebangkitan HMI sebagai pejuang Orde Baru dan pelopor kebangkitan angkatan '66 (1966-1968) Tanggal 1 Oktober 1965 adalah tugu pemisah antara orde lama dengan orde baru. Apa yang disinyalir PKI, seandainya PKI Gagal dalam pemberontakan HMI akan tampil kedua kalinya menumpas pemberontakan PKI betul-betul terjadi.
PDFSejarah HMI Dari Zaman Kemerdekaan Sampai Reformasi. Yakusa Blog November 29, 2017 Referensi, YakusaBlog- Rabu Pon, 14 Rabiul awal 1366 H atau bertepatan dengan 5 Februari 1947 M pukul 16.00 WIB, lahir sebuah organisasi mahasiswa yang kelak menjadi wadah perkaderan bagi calon-calon pemimpin bangsa.
DINAMIKASEJARAH PERJUANGAN HMI DALAM SEJARAH PERJUANGAN BANGSA HMI dalam Fase Perjuangan Fisik HMI ikut berjuang dalam perjuangan fisik ketika terjadi pemberontakan PKI di Madiun pada tahun 1948. Pemberontakan tersebut bertujuan mengambil alih kekuasaan pemerintahan yang sah dan ingin mendirikan "Soviet Republik Indonesia". Menghadapi hal
DimanaHMI ini adalah salah Satu organisasi diluar kampus yang berasaskan islam. HMI adalah organisasi yang berdiri pada 5 Februari 1947 yang dipelopori oleh Lafran Pane. Semenjak berdirinya HMI begitu banyak peranan dan perjuangan yang diberi kan HMI kepada IndonesiaI, sebagai berikut: 1. Partisipasi Politik HMI periode 1947 - 1960.
FASEFASE PERKEMBANGAN SEJARAH HMI. 1. Fase Konsolidasi Spiritual (1946-1947) Sudah diterangkan diatas 2. Fase Pengokohan (5 Februari 1947 - 30 November 1947) Fase Perjuangan Bersenjata (1947 - 1949) Seiring dengan tujuan HMI yang digariskan sejak awal berdirinya, maka konsekuensinya dalam masa perang kemerdekaan, HMI terjun kegelanggang
HimpunanMahasiswa Islam (HMI), dikenal sebagai organisasi mahasiswa tertua yang sampai saat ini masih eksis. Dalam perjalanan perjuangannya selama 68 tahun ini, HMI tentu meninggalkan jejak rekam yang panjang. Fase-fase perjuangan HMI yang tercatat dalam sejarah, menggambarkan HMI telah memberikan kontribusi besar terhadap perkembangan bangsa.
Berikutsejarah singkat masa perjuangan HMI dari fase X sampai XI. Fase X: Tantangan II, Pasca Reformasi Dari Tahun 2000-sekarang. Fase tantangan kedua ini muncul justru setelah Orde Reformasi berjalan selama dua tahun. Berdasarkan berbagai sikap PB HMI dalam memasuki era reformasi seharusnya mengalami perkembangan yang signifikan dalam menjawab berbagai tantangan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
DemiCita Cita Hmi. Download Demi Cita Cita Hmi PDF/ePub or read online books in Mobi eBooks. Click Download or Read Online button to get Demi Cita Cita Hmi book now. This site is like a library, Use search box in the widget to get ebook that you want. If the content Demi Cita Cita Hmi not Found or Blank , you must refresh this page manually.
Fasefase Perkembangan HmI. Submitted by Ketua Umum on Tue, 01/15/2013 - 07:26 1. Fase Konsolidasi Spiritual (1946-1947) Fase dimana latar belakang HmI berdiri, sudah jelas pemaparan diatas. 2. Fase Pengokohan (5 Februari 1947 30 November 1947) Selama lebih kurang 9 (sembilan) bulan, reaksi-reaksi terhadap kelahiran HmI barulah berakhir.
6Vs2. Uploaded byLkpph Banten 0% found this document useful 0 votes0 views7 pagesCopyright© © All Rights ReservedShare this documentDid you find this document useful?Is this content inappropriate?Report this Document0% found this document useful 0 votes0 views7 pages9 Fase Perjuangan HMIUploaded byLkpph Banten Full descriptionJump to Page You are on page 1of 7Search inside document You're Reading a Free Preview Pages 4 to 6 are not shown in this preview. Buy the Full Version Reward Your CuriosityEverything you want to Anywhere. Any Commitment. Cancel anytime.
BAB I PENDAHULUAN A. Pengertian Sejarah Perjuangan HMI Sejarah“Pelajaran dan pengetahuan tentang perjalanan masa lampau umat manusia mengenai apa yang dikerjakan, dikatakan dan difikirkan oleh manusia pada masa lampau untuk menjadi cerminan dan pedoman berupa pelajaran, peringatan, kebenaran bagi masa kini dan masa yang akan datang”. Perjuangan “suatu kesungguhan disertai usaha yang teratur tertib dan berencana untuk mengubah kondisi buruk menjadi baik”. HMI adalah kepanjangan dari Himpunan Mahasiswa Islam. B. Tujuan Mempelajari sejarah Perjuangan HMI Untuk meninjau dan meneliti secara sistematis dengan penuh kritis masa yang lalu agar dapat dijadikan cerminan dan pedoman masa kini sehingga dapat ditetapkan arah perjuangan masa mendatang. C. Organisasi sebagai alat berjuang dan tempat beramal QS. Ali Imron104 Menyeru kepada kebaikan/Islam dan mencegah kemunkaran adalah kewajiban setiap muslim. Maka HMI sebagai organisasi yang bercirikan Islam merupakan alat untuk mengajak kepada kebaikan wajib pula ada. BAB II TINJAUAN HISTORIK A. Lafan Pane dan hubungannya dengan HMI Lafran pane adalah tokoh pendiri utama HMI sehingga HMI tidak bisa dipisahkan dengan kehidupan Lafran Pane. B. Latar Belakang munculnya Pemikiran Berdirinya HMI Penjajahan Belanda atas Indonesia dan tuntutan perang kemerdekaan. Adapun dampak penjajahan adalah sbb Aspek Politik seluruh rakyat RI menjadi objek jajahan dan kehilangan kedaulatannya. Aspek pemerintahan dengan diciptakannya Gubernur jenderal sebagai perwakilan pemerintah belanda dan Jayakarta – Batavia menunjukkan bahwa Indonesia berada di bawah pemerintahan hindia belanda. Aspek Hukum pelaksanaan hukum bertentangan dengan kondisi sosiologis orang-orang Islam diperlakukan diskriminatif dan Belanda selalu diuntungkan Aspek pendidikan kebijakan pemerintah belanda menempatkan Islam sebagai saingan. Aspek Ekonomi dengan pembentukan VOC 1902 merupakan momentum penguasaan ekonomi Indonesia oleh Belanda dan Gubernur Van Den Bosh memakai Pola Tanam Paksa cultuurstelsel untuk komoditi ekspor. Aspek kebudayaan munculnya aliran budaya secara bebas dan bersaing. Aspek keagamaan Belanda membawa misi agama nasrani Berkembangnya faham dan ajaran komunis Berawal dari ISDV Indische Social Democratische Vereeniging 1914 yang berhasil mendekati SI sehingga SI terpecah belah. Pada tgl 23 Mei 1920 ISDV berganti nama menjadi PKI dengan Semaun dan Darsono sebagai Presiden dan Wapres. Faham komunis dikembangkan melalui PMY dan SMY yang berhaluan komunis. Kedudukan perguruan tinggi dan dunia kemahasiswaan yang strategis, dilihat dari sudut Secara akademik Perguruan Tinggi akan mencetak para sarjana, intelektual dan calon pemimpim bangsa, calon dosen, guru, praktisi dll. Dari segi kelembagaan Perguruan Tinggi merupakan pusat kebudayaan, pembaharuan dan kemajuan Dari segi kegiatan intra dan ekstra kemahasiswaan menjadi ajang pembentukan kader di kalangan mahasiswa. Kebutuhan akan pemahaman, penghayatan keagamaam PMY dalam aktivitasnya tidak memperhatikan kepentingan mahasiswa beragama Islam. Dengan tidak tersalurnya aspirasi keagamaan mayoritas mahasiswa di Yogyakarta merupakan alasan kuat bagi mahasiswa yang beragama untuk mendirikan organisasi mahasiswa sendiri terpisah dari PMY. Gerakan untuk memunculkan sebuah organisasi mahasiswa Islam untuk menampung aspirasi mahasiswa akan kebutuhan pengetahuan, pemahaman, penghayatan keagamaan yang aktual muncul di akhir November 1946 secara organisatoris di awal februari 1947 dengan berdirinya HMI. Kemajemukan Bangsa indonesia Kemajemukan Indonesia dalam segala aspek-suku, agama, ras, golongan serta dalam aspek agama, budaya, politik dan tingkat pengetahuan yang juga dimiliki umat Islam Munculnya Polarisasi Politik Sebelum HMI berdiri tahun 1947, suasana politik RI mengalami polarisasi politik antara pihak pemerintah dipelopori partai sosialis dan pihak oposisi yang dipelopori Masyumi, PNI dan Persatuan Perjuangan Tan Malaka. Pihak pemerintah menitikberatkan perjuangan memperoleh pengakuan kemerdekaan dengan perjuangan diplomasi sedang pihak oposisi menekankan pada perjungan bersenjata. Polarisasi politik ini berpengaruh membawa masyarakat mahasiswa. Tuntutan Modernisasi dan tantangan Masa Depan Timbulnya gerakan pembaharuan baik di dunia Islam dan di Indonesia, karena tuntutan kepada pembaharuan sebagai kebutuhan untuk menjawab berbagai persoalan yang muncul, disebabkan adanya kemunduran dan keterbelakangan, maupun menghadapi perkembangan baru sebagai akibat dari kemajuan IPTEK. Pembaharuan dalam arti modernisasi merupakan kebutuhan manusia yang tidak dapat dielakkan, karena modernisasi merupakan bagian dari kehidupan manusia. BAB III BERDIRINYA HMI A. Deklarasi Berdirinya HMI, arti dan makna 5 Februari 1947 HMI berdiri/dideklarasikan pada hari rabu tanggal 14 Rabiul awal 1366 H bertepatan dengan 5 Februari 1947, di salah satu ruangan kuliah STI dengan tokoh utama pendirinya adalah Lafran Pane mahasiswa STI tingkat I bersama mahsiswa STI lainnya. B. Di sekitar kelahiran HMI Tujuan HMI ketika pertama berdiri Mempertahankan negara RI dan mempertinggi derajat rakyat indonesia. Menegakkan dan mengembangkan ajaran agama Islam Tujuan HMI saat ini Terbinanya insan akademis, pencipta, pengabdi yang bernafaskan Islam dan bertanggung jawab atas terbentuknya masyarakat adil makmur yang diridloi Allah SWT. Karakteristik HMI karakteristik sesuatu yang sejak awal berdirinya sudah melekat Berasaskan Islam ,dan bersumber pada Al Qur’an serta As Sunah Berwawasan keindonesiaan dan kebangsaan Bertujuan, terbinanya lima kualitas insan cita Bersifat independen Berstatus sebagai organisasi mahasiswa Berfungsi sebagai organisasi kader Berperan sebagai organisasi perjuangan. Bertugas sebagai sumber insansi pembangunan bangsa. Berkedudukan sebagai organisasi modernis. C. Tokoh-tokoh Pemula HMI Pemrakarsa/pendiri HMI adalah Lafran Pane, Karnoto Zarkasyi, Dahlan Husein, Maisssaroh Hilal, Suwali, Yusdi Ghozali, Mansyur, Siti Zainah, M. Anwar, Hasan Basri, Marwan, Zulkarnaen, Tayeb Razak, Toha Mashudi dan Badron Hadi. D. Faktor Penghambat Dari Persyerikatan Mahasiswa Yogyakarta PMY Dari Gerakan Pemuda Islam Indonesia GPII Dari Pelajar Islam Indonesia PII BAB IV FASE-FASE PERJUANGAN HMI DAN RELEVANSINYA DENGAN PERJUANGAN BANGSA Fase Konsolidasi Spiritual dan Proses berdirinya HMI November 1946-4 Februari 1947 Fase Berdiri dan Pengokohan 5 Feb 1947 – 30 Nov 1947 Dalam rangka mengokohkan eksistensi HMI Maka diadakan berbagai aktivitas untuk popularisasi organisasi dengan mengadakan ceramah-ceramah ilmiah, rekreasi, malam-malam bidang organisasi didirikan cabang-cabang baru seperti Klaten, Solo dan Yogyakarta. Fase perjuangan bersenjata dan perang kemerdekaan, serta menghadapi penghianatan I PKI 1947-1949 Untuk menghadapi pemberontakan PKI Madiun 18 September 1948, Ketua PPMI/ Wakil Ketua PB HMI Ahmad Tirto Sudiro membentuk Corps Mahasiswa CM, dengan komandan Hartono Wakil Komandan Ahmad Tirto Sudiro, ikut membantu pemerintah menumpas pemberontakan PKI di Madiun, dengan mengerahkan anggota CM ke gunung-gunung memperkuat aparat pemerintah. Sejak itulah PKI menaruh dendam pada HMI. Fase pembinaan dan pengembangan organisasi 1950-1963 Sejak tahun 1950 dilaksanakan konsolidasi organisasi sebagai masalah besar dan pada bulan juli 1950 PB HMI dipindahkan dari Yogya ke Jakarta. Diantara usaha-usaha yang dilaksanakan selama 13 tahun yaitu pembentukan cabang-cabang baru, menerbitkan majalah media, 7 kali kongres, pengesahan atribut HMI sebagai lambang, bendera, muts, Hymne HMI, merumuskan tafsir azas HMI, pembentukan Badko, menetapkan metode training HMI, pembentukan lembaga -lambaga HMI. Dibidang ekstern pendayagunaan PPMI, Menghadapi Pemilu I 1955, Penegasan independensi HMI, mendesak pemerintah supaya mengeluarkan UU Perguruan Tinggi, pelaksanaan pendidikan agama sejak dari SR sampai Perguruan Timggi dll. Fase Tantangan Setelah Masyumi dan GPII berhasil dipaksa bubar, maka PKI menganggap HMI sebagai kekuatan ketiga umat islam. Maka digariskan Plan 4 tahun PKI untuk membubarkan HMI, dimana menurut plan atau rencana itu HMI harus bubar sebelum Gestapu/PKI meletus. Dendam kesumat PKI terhadap HMI, menempatkan HMI sebagai organisasi yang harus dibubarkan karena dianggap sebagai penghalang bagi tecapainya tujuan PKI. Sementara itu HMI berhasil mengadakan konsolidasi organisasi, dimana HMI tampil sebagai organisasi yang meyakinkan Tujuan dan target pembubaran HMI adalah untuk memotong kader-kader umat islam yang akan dibina oleh HMI. Untuk membubarkan HMI dibentuklah panitia aksi pembubaran HMI di Jakarta GMNI, IPPI, GERMINDO, GMD, MMI, CGMI dll. Menjawab tantangan tersebut, Generasi Muda Islam yang terbentuk tahun 1964 membentuk panitia solidaritass pembelaan HMI. Dalih Pengganyangan terhadap HMI berupa fitnah dan hasutan sejak dari yang terbaik sampai yang terkeji, HMI dikatakan anti Pancasila, anti UUD 1945, anti PBR Soekarno dan lain-lain. Dukungan dan pembelaan terhadap HMI walaupun HMI dituntut dibubarkan oleh PKI,CGMI dan segenap kekuatan dan simpatisannya, namun para pejabat sipil maupun militer para pimpinan organisasi dan mahasiswa serta tokoh islam turut membela dan mempertahankan hak hidup kebijaksanaan Panglima Besar Kotrar Presiden Soekarno dengan surat keputusan tanggal 17 September 1965, HMI dinyatakan jalan terus. Strategi HMI Menghadapi PKI menggunakan PKI Pengamanan, Konsolidasi, Integrasi Anti klimaks Gestapu meletus, ketajaman politik HMI telah mencium bahwa pemberontakan tersebut dilakukan PKI. PB HMI menghadap Pangdam V Jaya Mayor Jendja Umar Wira Hadi Kusumah dan menyatakan Pemberontakan itu dilakukan oleh PKI, HMI menuntut supaya PKI dibubarkan, Karena pemberontakaitu menyangkut masalah politik ,maka harus diselesaikan secara politik, HMI akan memberikan bantuan apa saja yang diperlukan pemerintah untuk menumpas pemberontakan Gestapu PKI. Fase kebangkitan HMI sebagai pejuang Orde Baru dan pelopor kebangkitan angkatan ’66 1966-1968 Tanggal 1 Oktober 1965 adalah tugu pemisah antara orde lama dengan orde baru. Apa yang disinyalir PKI, seandainya PKI Gagal dalam pemberontakan HMI akan tampil kedua kalinya menumpas pemberontakan PKI betul-betul terjadi. Wakil ketua PB HMI Mar’ie Muhammad tanggal 25 Oktober 1965 mengambil inisiatif mendirikan KAMI Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia. Tritura 10 Januari 1966 Bubarkan PKI, retool kabinet, turunkan harga. Kemudian Dikeluaarkan Surat Perintah Sebelas Maret pada tanggal 12 Maret PKI dibubarkan dan dilarang. Kabinet Ampera teerbentuk. Alumni HMI masuk dalam kabinet, dan HMI diajak hearing dalam pembentukan kabinet. Fase partisipasi HMI dalam pembangunan 1969-sekarang Setelah Orde baru mantap dimulailah rencana pambangunan lima tahun oleh pemerintah. HMI sesuai dengan lima aspek telah memberikan sumbangan dan partisipasinya dalam pembangunan 10 Partisipasi dalam pembentukan suasana, situasi dan iklim yang memungkinkan dilaksanakannya pembangunan, 20 partisipasi dalam pemberian konsep-konsep dalam berbagai aspek pemikiran, 30 partisipasi dalam bentuk langsung pembangunan. Fase kebangkitan intelektual dan pergolakan pemikiran 1970-1994 Pada tahun 1970 Nurcholis Majid menyampaikan ide pembaharuan dengan topik Keharusan Pembaharuan pemikiran dalam islam dan masalah integrasi umat. Sebagai konsekuensinya di HMI timbul pergolakan pemikiran dalam berbagai substansi permasalahan timbul perbedaan pendapat, penafsiran dan interpretasi. Hal ini tercuat dalam bentuk seperti persoalan negara islam, islam kaffah, sampai pada penyesuaian dasar HMI dari Islam menjadi Pancasila. Fase Reformasi 1995-sekarang Secara historis sejak tahun 1995 HMI mulai melaksanakan gerakan reformasi dengan menyampaikan pandangan dan kritik kepada pemerintah. Sesuai dengan kebijakan PB HMI, bahwa HMI tidak akan melakukan tindaka-tindakan inkonstitusional dan pertama disampaikan Yahya Zaini Ketum PB HMI ketika menyampaikan sambutan pada pembukaan Kongres XX HMI di Istana Negara Jakarta tanggal 21 Januari 1995. Kemudian pada peringatan HUT RI ke-50 Taufik Hidayat Ketua Umum PB HMI menegaskan dan menjawab kritik-kritik yang memandang HMI terlalu dekat dengan kekuasaan. Bagi HMI kekuasaan bukan wilayah yang haram. Pemikiran berikutnya disampaikan Anas Urbaningrum pada peringatan Dies Natalis HMI ke-51 di Graha Insan Cita Depok tanggal 22 Februari 1998 dengan judul urgensi “reformasi bagi pembangunan bangsa yang bermarbat”. BAB V MASA DEPAN HMI, TANTANGAN DAN PELUANG Kritikan terhadap HMI datang dari dalam maupun dari luar HMI. Kritikan itu sangat positif karena dengan kritikan HMI akan mengetahui kekurangan dan kesalahan yang diperbuatnya sehingga dapat diperbaiki untuk masa yang akan terhadap HMI berupa Independensi HMI, Kerja sama dengan militer, Sikap HMI terhadap Komunis,Tuntutan negara islam, adaptasi nasional, Dukungan terhadap rehabilitasi Masyumi,Penerimaan Pancasila sebagai satu-satunya azas, Adaptasi rasional dan lain-lain. Melalui Kritikan itu Banyak pihak menilai kredibilitas HMI mengalami kemunduran. Untuk memulihkan kredibilitas tersebut, M Yahya Muhaimin Pada kongres XX mengemukakan konsep Revitalisasi, Reaktualisasi, Refungsionalisai, Restrukturisasi. Anas Urbaningrum memberi terapi dengan Politik etis HMI, Peningkatan visi HMI,Intelektualisasi, penguasaan basis dan modernisasi organisasi. Untuk mencapai tujuan HMI pelu dipersiapkan suatu kondisi sebagai modal untuk merekayasa masa depan sesuai dengan 5 kualitas insan cita HMI. Tantangan yang dihadapi HMI dan bangsa Indonesia sangat kompleks tetapi justru akan menjadi peluang yang sangat baik untuk memperjuangkan cita-cita nya sehingga menjadi kenyataan. BAB VI PENUTUP Dengan mengetahui sejarah masa lampau dapat diketahui kebesaran dan semangat juang HMI. Hal tersebut merupakan tonggak bagi HMI untuk meneruskan perjuangan para pendahulunya pada masa kini dan menuju hari esok yang lebih baik. Mempelajari HMI tidak cukup dengan mengikuti Training formal. Tetapi mempelajari dan menghayati HMI harus dilakukan secara terus menerus tanpa batas kapan dan di manapun. Dengan cara seperti itulah pemahaman dan penghayatan akan nilai-nilai HMI dapat dilakukan secara utuh dan benar. source
Uploaded byIkhsanuz Zaky 0% found this document useful 0 votes18 views3 pagesCopyright© Attribution Non-Commercial BY-NCAvailable FormatsDOCX, PDF, TXT or read online from ScribdShare this documentDid you find this document useful?Is this content inappropriate?Report this Document0% found this document useful 0 votes18 views3 pagesFase Perkembangan HmiUploaded byIkhsanuz Zaky Full descriptionJump to Page You are on page 1of 3Search inside document Reward Your CuriosityEverything you want to Anywhere. Any Commitment. Cancel anytime.
Kelahiran Himpunan Mahasiswa Islam pada tanggal 5 Feberuari 1947 tidak terlepas dari permasalahan bangsa yang didalamnya mencakup Ummat Islam sebagai suatu kesatuan dinamis dari bangsa Indonesia, yang sedang mempertahankan kemerdekaanya. Sebagai organisasi kader yang sudah berumur 65 tahun. HMI, menurut ukuran umur manusia, secara psikologis telah melewati usia transisi dan kematangan berpikir bahkan jika umur HMI dipersamakan sebagian umur rata-rata masyarakat Indonesia, maka dia berada pada fase menunggu akan kematiannya. Dalam konteks inilah, apresiasi kita terhadap HMI menjadi sangat menarik untuk dielaborasi, HMI tentu sangat diharapkan mampu mentransformasikan gagasan dan aksinya terhadap rumusan cita yang ingin diwujudkan yakni "Terbinanya Insan akademis, pencipta, pengabdi, yang bernafaskan Islam dan bertanggujawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhai Allah SWT, maka aktivitas keseharian HMI harus senantiasa mendekatkan diri pada realitas masyarakat dan secara intens membangun proses dialektika secara objektif, dalam hal ini kader HMI harus memilki keberpihakan terhadap kaum tertindas, serta memperjuangkan kepentingan kelompok ini. Beriringan dengan hal tersebut, dalam dinamika empirik organisasi saat ini, Nampak bahwa HMI semakin kehilangan ruhnya dalam setiap aktivitasnya, baik ruh intelektualisme, sikap kritisnya, maupun semakin hilangan warna ideologis nilai dasar perjuangan dalam dinamika empirik organisasi, diperparah lagi dengan mentalitas arogansi yang tidak diiringi dengan struktur pengetahuan yang komprehensif, yang mewarnai kader-kader HMI saat ini. Implikasinya adalah dengan arogansi yang berlebihan secara tidak sadar ataupun sadar akan berkecenderungan pada pembentukan kader yang kurang komprehensif. Sehingga jika kita analogikan HMI sebagai sebuah perusahaan sesungguhnya kita mulai merasakan bahwa berbagai jenis produk yang dihasilkan oleh perkaderan HMI sudah mulai ditinggalkan oleh konsumen. Banyak hal yamg menjadi sebab kenapa kesetiaan konsumen kepada kita mulai berkurang, tentu jawabannya adalah bisa jadi semakin banyak para pesaing yang menghasilkan produk yang sama dengan kita atau mungkin strategi marketing kita semakin lemah, atau bahkan mungkin kualitas produk yang kita hasilkan semakin rendah dan tak mampu bersaing diera ini. Melihat kondisi tersebut dalam konteks keummatan dan kebangsaan, maka tuntutan reposisi HMI menjadi sesuatu yang sangat urgen untuk disahuti, kemudian kita melakukan evaluasi atas kebijakan posisioning organisasi selama ini untuk menjawab berbagai tantangan zaman, yang terus bergolak, berbagai upaya terapi mesti kita sahuti dalam upaya menjawab tantangan tersebut. Islam sebagai landasan ideologis adalah system nilai yang secara sadar dipilih untuk menjawab kebutuhan-kebutuhan serta masalah yang terjadi dalam komunitas masyarakat yang transformative ini, dari komunitas ini perlu peningkatan transformative terhadap ajaran-ajaran dasar Islam, tentang persaudaraan universal Universal Brotherhood, Keseteraan equality, Keadilan social social Justice dan Keadilan ekonomi economie justice. Ini merupakan cita-cita yang memiliki aspek liberatif, sehingga dalam usaha untuk mewujudkannya membutuhkan transaksi nilai, yang mampu memberdayakan para pengikutnya, dengan menjauhkan formalism simbolik dalam sebuah proses keyakinan-Nya, untuk menjawab tantangan tersebut maka Ideologi HMI harus mampu menekankan kesatuan manusia unity of mankind sebagai mana yang ditegaskan dalam Al-Quran Qs. Al-Hujurat 13. Ayat ini secara jelas membantah semua
fase fase perjuangan hmi